Total Pageviews

Monday, December 28, 2009

mari bicara

aku ingin mendekapmu
mari rapatkan dada
dekat-dekat
biar kita bicara
dari hati ke hati

Monday, December 21, 2009

selamat jalan

bersamamu kami kirimkan segenap cintakasih kami, yang
kau tanam dulu dalam timang-timangmu
ketika kami yang kecil merengek lapar dan kesepian
juga jejak rekam langkah kaki kami yang pertama
kami bakar airmata dalam doa-doa
menarilah untuk terakhir kali, lawan maut itu sebisamu
kau tak mungkin kalah,

tak kujanjikan dunia lebih indah bila kau tinggal
tapi cintaku menyelimutimu sepanjang waktu,
bila kau pergi juga, biarlah kuiring doa:
semoga juang dan sakit itu membawamu ke swargaloka

ku temukan di tengah-tengah padang hatimu yang begitu luas
bahwa kenangan manis tak dapat menjauhkan kita, sejauh apapun kau pergi
bawalah selalu,
betapapun berat melepaskanmu
ku ajarkan juga hati merelakan

selamat jalan ngkong,
anak-anak dan cucumu akan selalu mencintaimu
pulang dan damailah!



*mengenang ngkong, yang pulang ke rumbah Bapa pada tanggal 21 Desember 2009.*

Tuesday, December 15, 2009

pelacur dan pelacur

aku dan kau
melacurkan kelamin kita
demi nafsu yang meledak-ledak di dada
merampas rupaNya dari wajah yang
seketika lupa jatidirinya

aku dan kau
telanjang dalam keremangan lampu
menghabiskan sisa malu, yang
mengetuk-ngetuk jantung bertalu
musik pengiring ritual paling tabu

jika kau adalah pelacur
maka aku pun pelacur
ayat-ayatmu adalah syahwat
bait-baitku orgasme




Thursday, December 10, 2009

kehendak bebas (free will)

terkutuklah kitab suci para penindas sepertimu,
karena diantara luka rakyat yang mengangga
kau tawarkan ayat-ayatnya, racun candu itu
membenci!
mencekik kebebasan dan kemanusiaan
yang tuhan sendiri berikan kepada manusia

Wednesday, December 9, 2009

surat untuk Tuhan

Tuhan,
kapan-kapan kalo gak sibuk-sibuk amat
mau gak saya ajak ngobrol?

Monday, December 7, 2009

tentang penindasan

penindasan baru bagi penindasan lama
yang ditindas tetap sama, RAKYAT!
rakyat yang harusnya sejahtera
rakyat tidak makan ideologi dan agama
rakyat itu sederhana, tapi tentu bukan seperti
ayam atau kambing yang kau pelihara

di negeri ini penindasan tumbuh subur
seperti ilalang di tanah padang
ia tumbuh dari benih-benih ketamakan
besar oleh buaian ayat-ayat agama dan ideologi
atas nama tuhan dan kebenaran
penindasan dipraktekan dan dibenarkan

Wednesday, December 2, 2009

tearless

sunyi itu, ibu
dimana jauh kau simpan ?

Thursday, November 26, 2009

ada di balik batu itu

ada udang
di balik batu
sedang apa udang
di balik batu
ada apa di balik batu
untuk apa udang di situ
kalau batu di balik
terlihatlah udang di situ
lihat, si udang,
sedang apa di situ?

Monday, November 23, 2009

sebuah permintaan

menyertaimu sampai ujung waktu
adalah cintaku yang terdalam untuk seorang anak manusia
jangan kau biarkan aku berjalan sendirian
perjalanan begitu sunyi tanpa tawa dan airmatamu

dalam marah

kumaki luka yang setia
ingatkan aku pada doa

busuk!

politik intimidasi
main hakim dan menang sendiri

hati busuk penuh curiga dan nafsu

kompromi sebatas untung dan rugi
kesejahteraan adalah bisnis, bukan ideologi

lagi-lagi demi kehormatanmu

Thursday, November 12, 2009

kembali padaMu

kerinduan yang datang tiba-tiba
memakan habis ruang-ruang waktu

Tuesday, November 10, 2009

kakek

ayo kek,
ceritakan lagi dirimu
waktu kau muda dulu
mari isi darah dan nadiku
dengan kisahmu yang menggebu

agar aku kuat
menemanimu yang sekarat
melawan sakit yang mengerat
kita tahu, perpisahan kian dekat

biar sudah aku rela, jika nanti
kau pulang ke rumah Bapa
tapi hidup adalah perlawanan
sebelum kau pergi, mari sekali lagi
melawan!

Monday, November 2, 2009

jika aku tahu

jika aku tahu
di balik jubahmu yang agung itu
bersiap belati yang akan menikam jantungku
bagaimana aku bisa percaya
bahwa negeri ini baik-baik saja
jika aku tahu bahwa semua keadilan dan kebenaran
yang berkumandang adalah igauanmu tentang
bagaimana leherku akan kau gorok suatu hari nanti
bagaimana aku bisa hidup tenang
jika aku tahu
mengapa banyak orang mati dinegeri ini
yang batu nisannya adalah tanda penghinaan atas kemanusiaan
dengan apa kudamaikan hati
jika saja aku yang pegang pistol dan kekuasaan
tentu saja kau
yang akan menulisi puisi ini

Monday, October 26, 2009

pemanah

busur panahku meradang
menarik setiap otot-otot jari dan tangan
anak panahku siap terbang
ke jantungmu, diurat nadinya
telah tertancap rinduku

Friday, October 23, 2009

jakarta pagi hari

udara pagi
sunyi,
terjebak
diantara ribuan sepeda motor

Wednesday, October 21, 2009

pamit mandi

mari pergi mandi
bersihkan sisa-sisa kotoran yang menempel
kalau sudah bersih dan wangi, duduklah menyepi
kenanglah,

tadi kita bermain layang-layang
ku terbangkan ia kelangit tinggi

kau ikut denganku berlari-lari menarik benang
agar layang-layang kita semakin tinggi

hampir saja layangan itu menyundul langit
jika saja awan tak menghalang-halangi

karena angin begitu kencang, benang yang kau genggam putus
tapi tanganmu yang ku genggam tak jua pupus

anganku terbang bersama layang-layang
bersamamu, kelangit tinggi

mari pergi mandi
lalu kenanglah lagi
layang-layang yang terbang tinggi

kado perpisahan

sebait puisi kau letakkan
didalam tidurku tadi,
"kado untukmu sayang",
bisikmu mengiangi telinga
saat pagi melepas mimpi

matamulah mantra dan rima,
pada tiap baris puisi itu, dan
bibirmu adalah kontemplasi malam
yang selalu ku tunggu

Monday, October 19, 2009

fallen angel

ia jatuh
ke dalam cinta,
luka yang
ia selalu rindu
rasakan

Thursday, October 15, 2009

elang terbang bebas

menerobos semak -semak awan
melesat berpacu menunggang angin

"aku akan buat sarang,
di matahari!"

:tatkala matanya,
menujam leher pagi

Tuesday, October 13, 2009

mimpi buruk

ada sepasang potongan tangan
bersilangan di ranting pohon kering
berlumuran darah, ia melayang-layang,
lalu meringkuk keriput di ujung dahan
warnanya merah kecokelatan
warna lidah api yang dimakan usia
di sekitarnya jari-jari manusia,
hitam berserakan ditanah
hanya sampai ruas buku kedua
lengkap dengan kuku-kuku
jari jemari hitam berserakan,
berserakan di tanah merah darah
ku lihat wajah dari masa lalu menatap dingin
sedingin masa lalu yang bungkam
baju putihnya lusuh oleh coreng moreng sejarah,
menggapai-gapai, tertiup angin yang keluar dari
sela-sela bilik rumahnya yang reot
wajah waktu yang silam itu begitu ku kenal, namun
ia berkata-kata dengan bahasa yang asing tak kumengerti, peringatan!
"awas setan gentayangan!"
ia duduk dikursi kayu yang sama tua dengan kesilamannya
gurat pada kayu itu adalah kisah hidupnya,
ia gendong bayi merah, begitu murni bercahaya
diantara potongan tangan dan potongan-potongan jari yang berserakan
bayi dipangkuannya tidur nyenyak seperti malam yang hitam
terbuai nina bobo ayunan tangan seolah tak dapat tersentuh apapun
udara gersang membalut dan merasuk kesetiap lubang paru-paru
matahari merah, matanya nyalang menusuk jantung
mengeringkan nyali dan sisa-sisa keyakinan,
"akankah nyawaku akan selamat?"
aku terbenam dalam lautan ngeri tak bertepi
aku tak tahu apa sebabnya begitu
ku rapal doa yang seketika lari tunggang langgang
bagai kuda liar menolak terkekang
meninggalkan roh tak bertubuh, milikku

"dimana tuhan, dimana jalan keluar, dimana aku?"

Friday, October 9, 2009

aku adalah kembang api

aku adalah
kembang api
bakarlah
dan jangan sepi lagi
menarilah
meski aku tak memberimu janji

kau adalah korek api,
bunga-bunga api terbit dari senyummu

Wednesday, October 7, 2009

hujan

butir-butir air yang bosan,
ia lelah dan dingin
bermain angin

ibunda setia menanti
anak-anaknya
pulang
kepangkuan

perapian angan

perapian yang terbakar itu begitu hangat
ketika hujan kembali pulang
kepangkuan ibu
senja itu,


saat kita bermain-main dengan

hati masing-masing

di depan perapian yang hangat terbakar

berdiang juga
sunyi yang berunggunan,

di perapian

menanti tetes hujan terakhir
yang pulang senja itu

kita lamun dalam detak
dalam detik

Monday, October 5, 2009

antara

diantara bayang bayang patah
kulumat bibirmu yang remaja, disitu
tersimpan seribu misteri
kehangatan hatimu

O, hatiku yang sibuk
sejak tadi ia tak tenang
ia sibuk berlari
kesana kemari

khayalan tentang sepotong coklat

nafasmu dan coklat itu
luluh dalam bayang-bayang
mimpi yang jadi coklat
dua buah nafas dan
senyum manismu, dan
coklat di sudut bibirmu

izinkan aku...

Friday, October 2, 2009

PENGUMUMAN: DICARI

PARTAI PARTAI POLITIK YANG
KEMARIN IKUT PEMILU
HINGGA SAAT INI MENGHILANG
(MUNGKIN) TERKUBUR PUING-PUING
GEMPA DI SUMATERA
BAGI YANG MENEMUKAN
HARAP LAPOR KE POSKO GEMPA TERDEKAT
AGAR RAKYAT TIDAK MERASA
DIBOHONGI

dimana?

hey uda uni,
hey datuk!
dimana partai yang kau coblos
waktu tempo hari pemilu

guncangkah karena gempamu?

Wednesday, September 30, 2009

klaim

tangismu adalah
klaim!
atas luka-lukaku

kau bilang; "sayang,
kau tak punya
airmata"

andai saja

ku nikmati saja teduh
di rimbun matamu
pun berakhir andai-andai
kupenjara kau dalam lamun

Tuesday, September 29, 2009

aku punya mimpi

aku punya mimpi
di matamu
teduh luruhku
menggapai-gapai
kemerdekaan di sudutnya

malam yang melelahkan
sudahlah,
aku punya mimpi lain
ku simpan jauh-jauh di dalam
jantungku yang koyak setengah

tapi aku masih punya mimpi

Friday, September 25, 2009

inferior complex

dilarang!
pokoknya,
DILARANG!

karena kau punya tidak sama
dengan punyaku

Thursday, September 24, 2009

selamat lebaran Jakarta!

wajahmu tua
dalam hening gedung-gedung tinggi, yang
menancapkan sunyi seolah mati
sejenak termenung, dalam
pesta kembang api dan gema kemenangan
menanti kabar dari kampung

berapa lagi sanggup kau tampung?

Thursday, September 10, 2009

pernahkah kita saling cinta?

apakah kita saling mencintai, atau pernahkah?
ketika malam-malam yang kita lalui begitu sepi dan
keluh kesahmu meramaikannya, dan
kepalaku terbakar birahi menjilati sekujur tubuhku

apakah itu ciuman perpisahan atau awal perjumpaan,
apakah ciuman itu? ah, tak pernah terpikirkan
karena ciuman itu lebih penting

dalam setiap pelukan dan
tubuhmu hangat membungkus nafasku
aku pernah kehilanganmu dan
kecupan-kecupan itu tiba-tiba kurindukan

Wednesday, September 9, 2009

kopi hitam

batang-batang pohonmu
adalah sejarah panjang penjajahan
butir-butir bijimu, keringat
yang tumpah di tiap jengkal ladang di sumatera
secangkir sarimu adalah buruh tani
yang mengharumkan negeri hingga pelosok bumi
lalu ampas tinggal jadi bekas

Monday, September 7, 2009

hilang

masa kanak-kanak,
tak lagi kuingat penuh
semakin jauh,
waktu menggeretnya kelubang hitam
satu
satu

kaos bergambar wajah Yesus

O Yesus
aku pulang
pinjam wajahMu ya
agar Ia tak lupa
padaku
sebab
sudah lama
aku tak pulang

Wednesday, September 2, 2009

Indonesia tanah tumpah darah dan negeri tanpa wajah

tanah dan air tumpah darah,
kami rebut dari penjajah
pemuda pemudi bersumpah
satu di ribaan bendera kami yang gagah
itu tanah, itu air Indonesia Raya

tanah dan airmu adalah hadiah
sebagai negeri boneka yang terjajah
jangankan darah, keringatmu pun tak tumpah
tak ada belulang tak ada darah yang memerah
negerimu hambar tanpa lembar sejarah

jakarta

kota yang bising,
terbangun dari seribu sepi
dari lamunan
berjuta mimpi dan nyeri

gedung-gedung menjulang sepi
pejalan kaki yang sepi
penumpang bis yang sepi
pengendara yang sepi
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
para pekerja yang sepi
pengamen dan gembel yang sepi
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
aku menuai sepi
ah, sungguh ramai sepi
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
begitu bising!

seperti adanya

disinilah aku
berdiri dengan susah payah
di sisimu,
dengan cinta dan air mata yang
mengaliri sungai sunyi di hatiku

tak seperti malaikat yang akan memelukmu
dengan sayap-sayapnya yang rindang
aku adalah karna, terlahir hina, yang
berusaha tegak diantara kenyataan dan sumpah setia,
yang tegar berjalan di jalan panah,

airmata kusimpan jauh di lubuk maha dalam
hanya jiwa rela terbuang

relakah kau melangkah?

Friday, August 28, 2009

suatu ketika di gedung dewan (Indonesia Raya)

lupa
lupa lupa lupa
jadi lupa
nyanyinya

terbawa pasang

sunyi dan rindu
adalah satu
waktu adalah samudera
yang menghanyutkannya

Thursday, August 27, 2009

tentang tangis

airmata adalah kata-kata
suara hati yang bergumam
di pelupuk mata

Monday, August 24, 2009

malaysia

maling!

Friday, August 21, 2009

usia muda

ia masih saja sibuk mencumbu
pinggul yang remaja,
bibir harum
dada yang ranum, merasuki
rambut-rambut hitam yang muda
terurai tak dapat ditolak
tersesat!

ada mimpi di ujung pinggang
belum juga ia renggut
dada masih saja ribut
detaknya bertengkar dengan detik:

"tunggu aku keparat!
biar ku cumbu waktu sekali lagi".

Wednesday, August 19, 2009

tentang cemburu

seperti pasopati
menebas leher karna

:geram, tak terbalas

Tuesday, August 18, 2009

takdir dan kemerdekaan

kemerdekaan adalah konta
pembebasan karna
atas konspirasi para dewa

:apakah itu merdeka
atau takdir belaka?

Friday, August 7, 2009

semalam

o, eros
pada rindunya kau serahkan aku
di dadanya rinduku berlabuh

Wednesday, August 5, 2009

POLITISI SEMBELIT

BUNG,
MULUTMU YANG BICARA DEMOKRASI ITU,
BAU TAHI!

binatang bukan?

kalau rayap makan kursi kayu
memang itu makanannya
kalau kau memburu kursi kekuasaan
binatang apakah engkau heh?!

POLITISI TAIK KUCING!

DEMOKRASI DIGAGAHI
PELACUR-PELACUR KELAS TINGGI

:HIDUP BUKAN CUMA SOAL NASI BUNG!

Tuesday, August 4, 2009

hayo, siapa berhak?!

dana lokal dari kantong pribadi,
asalnya mungkin dari korupsi sana sini
dimana-mana 'ngumbar janji basi
nafsu berkuasa bertopeng demokrasi

dana asing alias uang kapitalis
dipakai untuk 'nipu rakyat
dimana-mana 'nebar janji manis
kekayaan negeri jadi tumbal,
rakyat tetap melarat

tentang dana asing

ia tak dikenal
asalnya dari luar negeri
agak misterius
dan tak di bagi-bagi
yang tak kebagian teriak-teriak:

tolak!

doa untukmu

tawamu serupa lagu-lagu kaset nostalgia,
kisahnya itu-itu saja
:ku ulang, ulang dan ulang lagi
semoga hati tak lekang

berhentilah menangis

selalu saja kau hapus jejak perjalanan
dengan urai airmata, yang entah mengapa

usai kita bicara

selalu saja akhirnya
kusimpan setiap luka

biar beku di hati saja

maaf, tapi bukan itu

karena aku tak tahu
apa arti airmatamu

bukan aku selalu mampu
tapi airmata bukan jalanku

bukan juga aku malaikat
tapi terkadang memang harus nekat

bukan sesal yang kumau
setiap kali mataku
mengusap airmatamu

Monday, August 3, 2009

malam terang bulan

terang bulan di langit
malam sepi yang damai
jalan-jalan yang kosong
rumput-rumput di pinggir jalan
tumbuh begitu saja
tertiup angin sesekali
aspal hitam, dan
lampu-lampu yang cemburu
cemberut di atas para peronda
yang api unggunnya hampir mati
bulan sungguh terang
malam begitu sepi
jalan-jalan kosong
rumput-rumput yang sesekali bergoyang
aspal hitam dan lampu-lampu yang cemburu
para peronda yang main kartu
yang api unggunnya hampir mati
langkah kakiku tak tentu arah
dan bulan di atas kepala
jadi satu

Tuesday, July 28, 2009

tentang mimpi orang besar

malam bermimpi tanpa tidur
pagi berjalan tanpa henti

Friday, July 24, 2009

rindu puisi

ia ingin sekali memberikan puisi untuk ibunya
sebagai hadiah yang sudah bertahun-tahun ia simpan
tanda mata dari kota, tempat dimana ia berkelana
dengan mantap ia pulang kerumah dengan membawa puisi
di tas ransel yang dulu dibelikan ibu untuk ia sekolah
sesampainya di rumah segera ia buka tasnya
tak sabar hendak memamerkan puisi kepada ibunya
tapi, sekarang puisi tak ditemukan
puisi yang nakal melarikan diri entah kemana
sebelum sempat ia mengetahuinya
lama ia mencari, ternyata puisi sembunyi di ujung senja
perlahan ia dekati puisi dan memegang pundaknya
lalu ia bertanya kepada puisi,"mengapa kau lari?"

puisi diam saja, ia ingat rumah dan ibunya
yang lama tak ia kunjungi

Thursday, July 23, 2009

tentang duka

ia adalah musafir, aku persinggahannya

tentang gerimis

aku pikir beginilah di atas sana;
tukang kebun menyiram bunga-bunganya ditaman
: aku adalah rumput liar diantara batang

menunggu pagi

malam larut di matamu
segala luka jadilah deru

menanti dengan sabar
sampai akhirnya tercabar

seribu kunang
mengirim bayang

jingkrak kuda binal
meringkik nakal

menari dan menari
entah kemana hati mencari

tak kuasa diri menipu jiwa
di jantung hati mahaduka bertahta

Tuesday, July 21, 2009

tentang rindu

aku rindu
bersandar
di hangat dadamu
ranum!
di situ ku kenang
masa kanak dulu
ketika di pangku ibu

aku rindu
tenggelam
di hangat tubuhmu
harum!
di situ kutemui
pejalan malam
yang selalu sunyi

aku rindu
kecup kenyal bibirmu
yang menolak tunduk
di situ aku pengembara asing
yang tak dapat berpaling

tentang malam

mari kita tuang bir
diatas takdir mencibir
biar saja malam berlalu
kau tetap dewiku

kalau pagi terlewat
bilang saja:
"sorry bro, aku mabuk semalaman,
tak sempat menyambut hangatmu"

biar siang menikam dengan teriknya
simpan panasnya untuk nanti malam
biar tetap hangat airmata
saat kita memeluk tubuh duka

Wednesday, July 15, 2009

endapan

luka yang kau simpan pada senyuman
seperti ampas kopi yang khawatir
mengendap di dasar cangkir
menanti dengan tak nyaman

tentang hidup

seperti putik bunga dan tunas daun
ia muncul, belajar mewarnai tangkai

seperti mimpi yang terus berlari
mencari rumah untuk pulang

betapa waktu pandai bermain petak umpet,
"siapa tahu tempatnya bersembunyi?",
"biar hari ini ku robek jantungnya!"

seperti dering telepon di tengah malam
mengejutkan bulan yang tidur pulas di balik jendela

"mengapa kau tak kirim sms saja?"

seperti chairil yang menghantui kata-kata
"sekali berarti, sudah itu mati"

kaukah api yang menghasut jiwa-jiwa sepi,
yang kemarin merampok sarang puisi?

Tuesday, July 14, 2009

tentang kata

kata-kata yang tak terucap
ia lahir sebagai puisi
puisi yang lahir
adalah kata-kata yang cacat
dari yang tak terucap

secangkir puisi

secangkir puisi
di pagi hari
nikmat diminum
selagi hangat

secangkir puisi
saat siang hari
di atas meja kerja
legakan rongga dada

secangkir puisi
saat senja hampir pergi
nikmatnya tak hilang
menjaga senja tetap terang

Monday, July 13, 2009

tentang kejujuran

serupa airmata mengalir
sedikit mengiris
hangat, dan
melegakan

cinta remaja

rindu yang kutitip pada waktu
kadang terasa ngilu
serupa bulu-bulu di pundakmu
diterpa angin lalu

Friday, July 10, 2009

sajak remang

di redup remang lampu
kita pun remang sejak dulu
mengapa remang tak terang saja
agar bebas telanjang di dada

bosan sudah gamang
biar ia datang
laksana laju air bah
memacu deru kemana entah

cinta sayang ini meluka
adakah ia berkata
biar sajak mengelepar
ditubuhmu yang pendar

dengan tulus

bayang-bayang itu selalu
menggangu, mengusik
dalam kedamaian tenang jiwa
"seperti hantu", katanya
seperti anjing liar
masuk kebun belakang rumah
merusak segala yang ditanam

didadanya angkara
duka di yang lainnya
biarlah biarlah,
ku bangun kembali istana
di atas pasir di hatimu

entah untuk yang keberapa kali
tahulah aku, tak ada sesal kini

bulan sabit lagi iseng

awan dilangit
lari terbirit birit

di kejar-kejar bulan
hendak disabit

menuai janji

waktu malam telah sampai ditengah
bulan terjepit awan setengah

aku berjalan membelah sepi yang mengangkang
saat itu arwah mimpi sedang asyik terbang
lalu tiba-tiba:"hei anak muda, mau kemana?",
sapa angin yang setengah berlari

lalu ku jawab," aku pergi menuai janji"
yang ku tanam di dadanya yang luka

yang tersisa

lalu dengan tawa kau garami luka
malam sepi itu tetap ada
jam dinding, lantai kayu, tembok kamar
menanti dengan sabar

sunyi sunyi sunyi
betapa waktu tak berarti

sepasang mata berharap
dua pasang mendekap

langit tak pernah coba kau raih
hanya lorong kecil ditelusur
sandiwara sandiwara memerih
berharap mimpi ini tak tidur

Thursday, July 9, 2009

yang tersimpan

demi hati yang luluh lantak
tertindas tanpa teriak

kenangan itu satu

tak dapat kuserahkan
pada masa lalu

Tuesday, July 7, 2009

tentang pemilu dari kolong underpass

atap rumah kami bergetar
tanda kampanye di gelar
gegap gempita
kirab kebyar-kebyar
ada angkot, bis kota, motor juga
nasi bungkus, bendera, kaos gambar muka
semua lewat di atas kepala
bukan atap saja bergetar
hati kami juga
ada kecewa, sedih, marah juga harap
getarnya sampai juga pada nasib kami
yang kusam oleh debu jalan

Wednesday, July 1, 2009

jangkrik

krik..krik..
krik..krik..krik
krik..krik..krik
krik..
krikkrikkrikkrikkrik
...
krik!

dejavu

rakyat harus sejahtera
pendidikan gratis
pengangguran kita kikis
sembako murah
harga BBM turun drastis
hukum kita tegakkan
koruptor diberantas habis

sebentar ya,..
kok rasanya pernah denger ya?!

ah,

kapan ya?!

aku masih di sini

aku masih di sini
di tepi jalan-jalan kota besar
menanti pembeli
sebentar-sebentar dipungli

tuan di sana umbar janji
kelak ingkar lagi

ya, aku masih di sini
tetap di sini sampai nanti

di sana tuan umbar janji

katanya lagi; "rakyat kurang gizi!"

Monday, June 29, 2009

sepi

saat-saat dimana aku
tak(kan) lagi melihatmu
dan rindu menghempaskan semua
kenangan dan masa lalu
tepat di dadaku

ayo, siapa mau?

mulut-mulut penguasa
lapar kuasa
perut-perut rakyat jelata
jadi umpannya

siapa mau kenyang?
pilihlah saya

siapa mau sejahtera?
pilih saya

pendidikan gratis?
pilih saya

harga BBM turun?
karena saya

pemerintah lambat!
maka pilihlah saya

penuntasan pelanggaran ham?
tentu pilih saya, saya kan tidak terlibat!

mulut-mulut penguasa
cari kuasa
perut-perut rakyat jelata
jadi umpannya

demokrasi ubi

demokrasi digadang-gadang
janji manis meruah bagai bandang
cuci gudang!
kampanye otak udang

rakyat di angin-angin
pakai angin surga yang sejuk dingin
terlalu lama diangin
rakyat masuk angin

penguasa kentut dengan nyaring
ada juga yang pamer taring

demokrasi ubi,
cuma jadi kentut
rakyat jelata
tetap melata

Friday, June 26, 2009

Indonesia hari ini

indonesia hari ini
akankah lupa sejarah dulu
yang mati diterjang peluru
yang dihilangkan hingga kini

indonesia berdemokrasi
satu saja yang tak terjanji
pelanggar ham di ADILI!
alih-alih jadi pemimpin negeri

indonesia hari ini
buka matamu
buka hatimu
usiklah kau punya nyali

untuk bilang tidak
untuk demokrasi yang koyak

indonesia hari ini
jangan lagi makan janji
ilusi kuno para penguasa
agar kita lupa pada luka

kerdil

matamu adalah budak belian
terperas hatimu kecil, yang
tak sempat tumbuh besar
mekar dalam genggaman

Thursday, June 25, 2009

senja mendung di kurusetra

senja mendung di kurusetra
hari ketujuh belas barathayuda
satu lagi gugur di jalan panah
ksatria karna putra sang surya
tumbal sebuah konspirasi sang kresna
jadi pahlawan demi tumpasnya angkara

bayang-bayang

ia adalah masa lalu
ia berjalan menembus ruang dan waktu

Wednesday, June 24, 2009

sang adipati

seorang karna adalah ksatria,
ia mati oleh panah di medan laga
maju perang membela angkara,
namun ia tetap ksatria tahu yang ia bela adalah salah,
kesetiaannya bagai karang dan keberaniannya sejati
ambil sikap beradu sakti
ia tak takut mati
pada jasadnya turun melati
pertanda hatinya putih dan suci

setia dan berani bersikap itulah ksatria
bukan hanya janji yang menjadikannya

kerut di dahimu

ia makan wajahmu, mengunyahnya pelan-pelan
memutar waktu lebih cepat pada rautnya, lalu
meremas-remas jantungmu
hingga udara tak lagi leluasa

airmatamu adalah budak belian
tak mampu lagi menggendong luka,
ia rampas mimpi-mimpi dalam tidurmu
dan malam pun tak pernah berani menatap pagi

bau kematian tercium
dari tiap hembusan nafasmu
disetiap langkah kau tancapkan
duri ditelapak kaki
juga dalam hatimu

Tuesday, June 23, 2009

kubur

sebuah awal
dari semua asal

buruk baik
tertanam apik

yang di buat
dan tidak dibuat
terkenang kuat

setiap peristiwa
segala tiada
sesal terbawa
juga tawa

tinggal sunyi
pada kamboja
rumput liar, ilalang menari
waktu menghapus duka

Monday, June 22, 2009

melodrama

melodrama khas melayu
petaka duka diatas duka
tenaga kerja wanita
di negeri boneka jadi babu
dinegeri sendiri angin lalu

kalau mano itu berbeda
wajah cantik penuh 'caya
seyum manisnya tersipu

kalau yang namanya iyem itu babu
peras keringat di negeri boneka
pulang kampung dengan luka-luka
di pintu tiga masih ditipu

kalau mano banyak pengacaranya
pulang ke tanah air bak puteri
iyem banyak boroknya
pulang ke kampung gigit jari

hilang

malam senyap menyergap
menyekapku dalam sakunya yang gelap

nisan

prasasti bisu masa lalu
awal kisah perjalanan baru

Friday, June 19, 2009

perpisahan

pada sisa perjalanmu sendiri
kau taburkan bunga pada kenangan
ku maknai saja rindu pada sunyi
biar usai kau jejaki keraguan

Thursday, June 18, 2009

selamat jalan senja

setelah sekian lama kita menuliskan kenangan
di dada masing-masing yang penuh kata tak terucap

kitapun berpisah

setelah waktu akhirnya mengakhiri segala tanya
dan segala kerinduan tentangmu perlahan terjawab

kita pun berpisah

setelah semua peluk dan cium yang ku kirim padamu
selalu kau sambut dengan hangat di hati

kita pun berpisah

setelah ucapan perpisahan mengantar kita
pada tepian mimpi-mimpi yang dulu kita kejar

kita pun berpisah

Wednesday, June 17, 2009

berapa jauh

berapa jauh jarak yang harus ku tempuh
untuk menjauhkan hatiku dari mu?

sejauh jarak perjalanan nafas

maka terjadilah

terjadilah segala sesuatu
menurut kehendakMu
karena kehendakMu
adalah rencanaMU
bagiku

Tuesday, June 16, 2009

sabar saja

berapa lama lagi
kita harus mendengar kata "RAKYAT"
di lacurkan?!
sabarlah
sebentar lagi pemilu selesai

Monday, June 15, 2009

mimpi

bunga yang dipetik malam
untuk merayu senja
agar ia dapat
mengecup rona
pipinya yang jingga

seperti mimpi-mimpi yang mengarungi malam

aku adalah
matahari
dan
kau selalu
senja

tidak ada RAKYAT kecil

yang ada adalah RAKYAT
tak ada RAKYAT kecil
ada pun
RAKYAT
yang dikecilkan
agar yang lain
jadi terlihat
besar
jika sudah merasa besar
baru bisa berkoar-koar
seolah-oleh membela RAKYAT
mengeksploitasi RAKYAT
yang tadi dikecilkan

pertanyaannya adalah:
mengapa dikecilkan?
karena supaya tidak menggangu
tetangga sebelah

bingung..?
sukurlah!

Thursday, June 11, 2009

sajak LUDAH

kuludahi kata RAKYAT yang keluar dari mulutmu
kuludahi kata BANGSA dari alat ucapmu
kuludahi kata MAKMUR hasil karya tuturmu

lalu kuludahi hatimu yang penuh tipu muslihat
sebab engkau tak lebih berharga dari air ludahku!

Oleh: Tuluswijanarko

Wednesday, June 10, 2009

hujan deras

hujan yang turun dikotamu
segera tiba di tempatku
lewat pesan singkat telepon gengammu

"hati-hati pulang nanti,
diluar hujan deras sekali"

begitu ku baca pesanmu

seperti rinduku padamu
yang tiba-tiba deras turun sore itu

Friday, June 5, 2009

biar sudah

kau yang bergulat dengan kebohongan
buta matamu silau akan indah dunia

berapa banyak jadi punyamu?

sayapmu tak sanggup membelah angkasa
biar sudah kaki tertanam kuat pada bumi

bukankah semua tak sempurna?

perlahan-lahan

secangkir kopi yang kau seduh tadi pagi
isyaratkan kenangan yang kelam tertimbun waktu
tak ada lagi rindu yang mengebu-gebu
bayang-bayang wajahmu terbang dan menghilang
seperti uap kopi yang melayang ke udara
meninggalkan permukaannya yang hitam
hangatnya menghilang pada udara pagi yang dingin
hingga tersisa hanya manis catatan-catatan perjalanan
yang ku minum perlahan-lahan dan akhirnya tandas
meski sudah tak lagi hangat namun nikmatnya ku kecap

Wednesday, May 27, 2009

jahanam

sejarahmu jahanam bung
bergelimang darah dan airmata
kini bung hendak jadi penguasa
sejarah hendak juga kau bungkam

Thursday, May 14, 2009

meja

empat kaki menopang dengan setia
berat ringan dibagi rata
ramai dan sepi dilalui bersama
sungguh setia itu begitu sahaja

Wednesday, May 13, 2009

bercinta

dua nafas
jadi
satu

dua badan
jadi

satu

dua jiwa
bertemu

dihembus
nafsu

rindu

ketika jarak dan waktu begitu pekat dalam ingatan
begitu sunyi membekap namun terkenang juga

Thursday, May 7, 2009

malam merangkai sepi

malam jalang mencekik
nyeri luka menyelisik
tubuh kita kuyup masai
:di guyur sepi

Tuesday, May 5, 2009

tentang mimpi hari ini, berita dan masa lalu di negeri merah

di tivi ramai-ramai orang menjual airmata
atau berita artis kawin cerai
kemarin ada berita pejabat dan anggota dewan
ramai-ramai diadili karena korupsi
hari ini tivi penuh sesak
oleh partai yang berdesak-desakan
rebutan kursi dewan dan mencalonkan presidennya
tak ada yang salah dengan itu
semua tampak baik-baik saja
di televisi, di jalan-jalan dan tembok kota
penuh gairah tapi sarat nafsu berkuasa

aku bosan nonton tivi, lalu tertidur dan bermimpi
mimpiku tentang negeri berwarna merah
api dan airmata menguasai udaranya
kota-kotanya adalah wajah angkara
hukum di negeri ini adalah parang dan peluru
negeri ini berwarna merah

konon jaman dahulu kala
ada banyak darah tertumpah
begitu banyak hingga tanahnya berwarna merah
pohon-pohon berwarna merah
air berubah jadi merah
orang-orang berwarna merah
demikianlah semua berubah jadi merah

awalnya begini;
penguasa negeri ini adalah seekor kera
bertangan besi dan pandai menipu
ditipunya waktu agar mau menuruti kata-katanya
agar negeri ini abadi agar tetap jadi mimpi
yang menghiasi tidur malamku
ia juga menguasai empat unsur alam
darat laut dan udara juga berita
di negeri ini tak banyak berita yang masuk tivi
tak ada berita artis kawin cerai apalagi pejabat korupsi
rakyatnya hidup tertib dibawah todongan senapan
kera bartangan besi gemar mandi darah dan airmata

hingga suatu waktu angin perubahan bertiup kencang
menampar wajah-wajah lesu yang tanpa nyawa
angin ini membawa percikan api dendam kesumat
yang segera membakar dada kering yang tinggal tulang,
mulut-mulut yang dibungkam, yang lelah, yang penat,
yang bosan, yang marah, yang berdarah
lalu terbakarlah segala luka dan airmata
rakyatnya pesta api!

aku meloncat terbangun dari mimpi
mimpi tadi ikut loncat dari sofa tempatku bermimpi
kini ia tak lagi jadi mimpi
ia terlempar ke masa lalu
dimana waktu menyimpannya begitu lama
agar orang-orang yang nonton tivi lupa
bahwa ia juga pernah jadi berita

mei (1998)

mei
kau bungkam
diantara
keramaian pesta
hari ini

waktu
menyimpanmu
rapat-rapat

pesta hari ini begitu ramai
warna warni balon di udara
mengganti langitmu
yang dulu hitam oleh asap
ban-ban mobil yang hangus terbakar

tembok-tembok kota sudah ditata
tak ada lagi teriakan kecewa
di jalanan penuh foto dan gambar iklan
pepesan kosong memang, tapi
tak ada lagi mayat-mayat orang lapar
yang mati terbakar

pesta hari ini adalah pesta angin
bukan pesta pora api seperti dulu
yang menyantap perut-perut orang lapar
di mal-mal dan di toko-toko

mei, kali ini kau tak ikut pesta
tak sanggup lupa pada luka
yang kini tak lagi jadi berita

Tuesday, April 28, 2009

kopi hitam

saat tiba pagi
aroma kopi
hangat di hati
aku rindui;

manis senyummu
yang tak tertahankan itu

jika demikian maka biarlah

bagaimana lagi kami harus melihatmu
jika dusta dan serakah jadi menu
yang harus kami kunyah setiap hari, sementara
kolong-kolong jembatan dari dulu hingga sekarang
tak pernah sepi penghuni
kau biarkan saja gembel-gembel dan anak jalanan
mengunyah malam demi malam ditiap persimpangan
lampu merah kotamu
pinggiran kali kumuh yang airnya sudah lama berhenti mengalir
baunya sanggup merusak semua mimpi dan impian anak-anakmu
tak pernah kehilangan pesonanya
masih saja memberi mimpi bagi orang-orang kampung
yang rela menjual sawah dan kerbau sumber penghidupan
demi gemerlap kehidupan kotamu yang mereka lihat di televisi balai warga
dan kau masih berkoar-koar mengirimkan undangan kematian kepenjuru negeri
ya, kau bung!

kau pikir ini negeri punya bapakmu!
jadi kau bisa bagi-bagi warisan dengan keluargamu setelah bapakmu mati
dan kami adalah peminta-minta di depan pintu rumah mewahmu
dan kami adalah pencuri yang mengintai dapur dan kamarmu
dan kami adalah tikus-tikus di bawah lantai rumah yang berharap remah roti
jatuh dari meja makanmu

jika demikian kau berpikir
bagaimana lagi kami harus melihatmu

jika demikian, maka bersiap-siaplah!
demi mimpi-mimpimu yang memakan mimpi-mimpi kami
demi rumah mewahmu yang berhalaman luas dan berpagar tinggi
yang tak mampu kami kunjungi untuk melihat bagaimana keadaanmu,
"baik-baik sajakah kau" atau temboknya sudah menelanmu mentah-mentah
demi mobil mewahmu yang bikin marah disetiap kemacetan jam pulang kantor
dan suara sirene pengawalmu tak henti-hentinya mengusir kami pembayar pajak negeri ini
demi pelacur-pelacurmu yang adalah teman atau saudara kami
yang kau lempar ke klab-klab malam dan pinggir-pinggir jalan
setelah mimpi bapak ibunya kau tipu digemerlap lampu kotamu
demi segala yang kau cintai yang belum tentu kami perduli

karena demi,
luka-luka kami
anak-anak kami
saudara dan sanak kami
impian kami
tanah dan air kami
demi kemerdekaan dan kedaulatan
dengan tidak mengurangi rasa percaya atas diri sendiri
dan meninggalkan segala bentuk pemberhalaan
dengan bangga dan busung dada, kami angkat bicara :
"kami tidak akan pernah lagi mempercayaimu!"

Monday, April 27, 2009

mengingatmu

serupa senja
saat tiba musim bunga

serupa asap dupa
mengaliri udara
mendiami
mimpi-mimpi

serupa malam
diam
tak mau pergi

Thursday, April 23, 2009

mencintaimu

buatkan aku
secangkir kopi
hangat
dari matamu

Tuesday, April 21, 2009

Dewan Legislatif

legalisasi penipuan
oleh kekuasaan

solilokui- (puisinya Saut Situmorang, Dahsyat!)

makna macam apa yang
bisa didapat dari hitam aspal jalan jam 12 siang?
bungkus rokok dan taik anjing
di trotoar bicara soal duit dan nasi
yang mesti dimiliki setiap hari.
di negeri kaya tapi miskin begini
jutaan bungkus rokok dan taik anjing
tercecer di trotoar jalan kota kota
cuma jadi jutaan bungkus rokok dan taik anjing.
sinis, katamu menanggapiku.
tak ada yang mengejek siapapun di sini.
soalnya cuma ---
mungkinkah menulis puisi
dari hitam aspal jalan jam 12 siang?
asap kotor sehitam pantat kuali
tergantung antara langit dan bumi
kentut busuk knalpot knalpot keparat
yang hiruk pikuk di sekitarmu.
siapa yang minta anugrah mewah ini!
debu beracun mengejarmu sepanjang hari
dan malam datang
membawa nyamuk nyamuk bangsat
yang sanggup mengantarmu ke liang lahat!
puisi? Bagaimana kau bisa
menulis puisi tanpa bicara tentang semua ini!
bulan hanya indah
kalau lagi purnama
dan dilihat dari belakang kaca jendela rumah!
di luar mungkin ada maling
yang sembunyi di balik tanaman mawar binimu
menunggu dengan belati setajam lapar seminggu.
atau seekor ular berbisa
melata di rumput dekat jendela
tergoda burung hias mahal dalam sangkar
yang kau gantung di ruang tamu.
maling dan ular lapar pun
pantas kau masukkan dalam puisimu.
pengemis itu jelek
jorok dan bau. teteknya berkurap
berpanu
tapi putingnya memancarkan
air susu
sehat bagi puisimu.
tak perlu kau malu
jadi anak ibu itu.
dan anak anak bawah umur
yang berkeliaran kayak setan
di antara sedan sedan di persimpangan jalan
berteriak teriak menjual majalah dan koran
atau berkerumun di depan restauran
berlomba siapa lebih dulu menyemir sepatumu
demi satu dua lembar rupiah lusuh
menyikut sekeping nurani
yang tercecer antara nasi goreng dan
kentucky fried chicken
di meja di depan mata
di ujung air ludah
30 centimeter dari baju pacarmu
yang terbuka dadanya
anak anak setan itu
adalah dupa dupa wangi
yang kau perlu untuk membuat suci
altar keramat zikir baris baris puisimu.
bangsat, kau menguap sekarang!
aku tidak terlalu akademis bagimu!
aku tidak terlalu stylist
atau postmodernist
buat kantong seleramu yang borjuis!
the fetishism of taste!
di negeri ini aku lahir
karena cinta
tambah birahi menyala nyala.
waktu kecil aku mandi hujan
main becek main layangan nyemplung di paret depan rumah
cari ikan sebesar jari tangan
dan waktu mandi di sungai berair kuning
gatal dan bersampah
kawanku menangkap seonggok taik yang mengapung
dan melemparkannya ke arahku!
aku merunduk
menyelam ke dasar sungai, hehehe…
aku anak negeri ini
aku makan duduk di tikar di lantai
pakai tangan tak kenal sendok garpu
sampai sekarang tak malu aku makan begitu
walau sudah bertahun di negeri steak dan sandwich merantau.
menguaplah kau terus.
kalau perlu improvisasi dengan kentutmu
biar lebih seru.
pernah kau berpikir
kenapa tentara dan alim ulama
begitu berkuasa di negerimu?
Indonesia adalah republik pistol dan kitab suci!
kenapa kau tidak jadi jendral atau kiai saja
ketimbang memilih cuma jadi penyair
yang cari sesen duitpun tak sanggup mikir!
pernah kau bayangkan
jangan jangan binimu pun sudah mulai yakin
jendral dan kiai jauh lebih meyakinkan
nulis puisi daripada kau sendiri!
sialan!
rembulan dan anggur merah
tak mampu lagi memperkuat cinta
apalagi memperindah rumah tangga.
aku penyair negeri ini
menulis pakai bahasa negeri ini
sudah waktunya bicara soal negeri ini.
haiyaaa…

1999

saut situmorang

biarkan saja

biarkan aku apa adanya
agar jiwaku kau lihat juga
seperti wajahmu yang merona
saat kita dulu berjumpa

seperti kemarin juga hari ini
biarkan saja aku menjadi
berharap yang kutanam pohon abadi
suatu hari nanti pucuknya mengenggam matahari

biarkan aku memelukmu
agar semua luka didadamu
semua duka di dadaku
jadi satu

Friday, April 17, 2009

terjaga

malam tidur pulas
mendengkur keras
disisi ranjang sepi
sajakku sembunyi

Wednesday, April 15, 2009

sepanjang perjalanan

aku adalah topeng
dari setiap ketakutan dan ngeri,
dari luka dan nestapa dari dosa
aku beribu bentuk tak satu pun diingini
sepi jadi bayang-bayang mengintai
seperti mati

lorong-lorongku sunyi di rongga dada
ada neraka di jantungku,
gemetar karena gelisahku memamah
berjalanku sendiri menuju kesilaman waktu

deret pohon adalah romansa dalam bisu
berbaris rapi menghibur sudut mata yang lelah
entah, ku rasa ada damai di bawah dahannya
beberapa supir angkot menggantung mimpi di rerantingnya
menjaganya sambil rebah diatas tikar anyam usang yang
sudah sedikit hitam jeraminya
aspal jalan pun tak lagi medan pertempuran yang garang
semua lelap, senyap

aku adalah topeng yang iri ketika
kucuri bisik-bisik gembel dan pemulung yang
asyik ngobrol di samping gerobaknya
menunggu pagi sambil makan angin, makan angan
gratis! sampai kenyang
trotoar jalan kita punya, tak usah risau tentang apapun itu


aku adalah topeng retak
yang kuat-kuat sembunyi dan bertahan
dari hantaman waktu dan perjalanan yang
tak tahu kapan usai

aku adalah topeng
topeng adalah aku
dalam bayang-bayang
masa lalu, yang
mengirim cemas
pada hari esok

Monday, April 13, 2009

air mata air

di kotaku
banjir airmata
di tanahmu
tak ada mata air
tapi tak ada
air mata

kemarin kau menangis

kemarin kau mengiringku
dengan tangis
lalu kau sambut pula
dengan tangis
bedanya hanya rindu; dan
kesal

Wednesday, April 1, 2009

kepada semeru

mengenangmu adalah anugerah
menginginkanmu adalah siksa
mimpi sudah kularung
tinggal tunggu waktu menjemput
jika tak hari ini menjadi
hari nanti sudah tentu

kepada penyair

penyair, sampai jumpa lagi
aku pergi mendaki
menapak ke tanah yang tinggi
semoga kau tak sepi

kalau kau bosan bacalah jejak kemarin
lalu hitunglah gurat kerut kening
beberapa waktu yang lalu begitu mesra
mengukir kerut lengkung di garis mata

kau adalah kenangan yang mengantarku pergi
jadilah hari ini kau kenang esok hari

ruang kosong

Tuesday, March 31, 2009

ritual tahta

aku lihat kalian
saling bunuh
sebentar lagi
bangkai kalian
saling meniduri

Friday, March 27, 2009

dalam perspektif

lampu lampu malam
di jalan-jalan kota

jalan-jalan kota
di lampu lampu malam

Wednesday, March 25, 2009

kabari aku

kepada malam yang setia menengokmu
kutitip kangen yang ramai riuh
karena kamarku jadi penuh sesak dan berisik,
aku jadi nggak bisa tidur diganggunya

"jika nanti sudah sampai, tolong sms ya,
kabari bahwa ia kau terima dengan baik"

"jika tak kuat lagi kau menanggungnya,
titipkan saja lagi kepada malam"

yang akan mengantarnya kembali padaku

Tuesday, March 24, 2009

musim kawin

tetes-tetes darah airmata lelah menggapai langit
awan dan hujan berlalu bersama musimnya
pancaroba di tanah negeri
mendung mengintai bak pencuri

duka tak bertuan sembunyi dibalik warna warni cuaca
tipu muslihat adalah wabah yang terbawa angin
panggung pesta dibangun dengan dusta
undangan keempat penjuru dikumandangkan
penanda sebentar lagi musim kawin tiba

ular dan musang saling pagut
sambil diam-diam menghitung jembut
sebagai mahar juga kuda-kuda
kalau nanti waktu melamar tiba

Monday, March 23, 2009

laba-laba

pada kepul asap rokok
kutulis sebait puisi
tentang laba-laba merajut sarang
menyambung utas demi utas helai nafas
yang kadang terputus oleh nasib
tak bosan tak lelah meski sesekali putus lagi
ulang lagi, rajut lagi
siapa tahu menangkap mimpi hari ini

Tuesday, March 17, 2009

malam jadi mendung

bulan telanjang bulat
ditelan awan bulat-bulat

Monday, March 16, 2009

aku adalah malam

aku adalah malam yang akan meninabobokan rembulan di pangkuanmu
kau jagalah sepenuh sesak kelam masa lalu kita, sementara itu
aku kembali kelangit melawan segala perih serupa kabut
merapikan kembali gugus bintang-bintang ditepian harapan
menggedor gerbang surga dan pengampunan
aku adalah malam, rembulanku tidur dipangkuanmu

Tuesday, March 10, 2009

pendosa

berjalan
dalam seribu
bayang-bayang
wajah serupa hantu
wajahnya sendiri
bergentayangan
meludahi masa lalu
kemarin
adalah liang kubur
yang di gali
dengan birahi
besok
mampus kau dimakan api!

Wednesday, March 4, 2009

belajar sepeda (pulang kerumah)

suatu hari ayah memberiku sebuah sepeda
rodanya dua warnanya biru tua
tentunya dengan model terbaru masa kini
ayah bilang itu hadiah
"karena aku menyayangimu"
"sepeda balap, khusus kupesan untukmu", ucapnya bahagia
dengan gembira aku mulai belajar
menaiki sepeda yang biru tua itu
warna birunya berkilauan ketika matahari menyentuh tubuhnya
dua rodanya yang liar berbelok ke kiri ke kanan
terus kupacu si biru meski berkali-kali terjatuh
maklumlah sepedaku ini jenis sepeda balap yang sulit dikendalikan

hari hampir senja saat aku rsadar aku telah jauh dari rumah
ayahpun tak lagi kulihat disekitarku
sambil mengingat-ingat jatuh demi jatuh yang tadi ku alami
ku perhatikan disekujur tubuhku banyak luka-luka kecil
yang dari tadi tak kurasakan karena asyik menaklukkan si biru itu
darah mulai keluar dari luka-luka itu, perih!
aku mulai menangis dan memanggil-manggil ayah,
"ayah, dimana kau, mengapa kau biarkan aku sendiri?"
dengan langkah gontai kuseret sepedaku, berjalan pulang
di depan rumah, ayah sudah dari tadi menungguku, tersenyum-senyum ia bertanya,
"bagaimana sepedanya, asyik bukan?!
"sepeda itu dirancang khusus untukmu, tak ada duanya didunia ini nak"
kuikuti ayah yang menggandengku masuk ke rumah,
si biruku parkir manis di tembok rumah kami
"mari ku rawat luka-lukamu, agar besok kau belajar menaklukkannya lagi".
seketika aku lupa bahwa tadi aku mencari-carinya,
tak sabar aku menanti matahari terbit lagi besok pagi.
" kan ku taklukkan lagi sepeda ini", pikirku
sementara ayah sibuk merawat luka-lukaku

Monday, March 2, 2009

akulah abu

demi tubuh yang koyak koyak oleh tombak yang terhunus
demi garang darah Kristus yang mengalir di gunung tandus
demi penebusan demi gerbang Petrus

akulah abu yang kau salibkan
bersama-sama dengan dia
yang terusir dari eden
menderita dan berdosa
demi penantian akan janji setia

akulah abu yang genap diurapi
oleh tubuh dan darah sang putera

Friday, February 13, 2009

mengigau karena demam pemilu

ada berapa dari kalian
yang setelah selesai kampanye dan pemilu
masih tetap memikirkan...eh sebentar
prosesnya belum selesai, mari kita ulang

jadi begini,
ada berapa dari kalian yang setelah
selesai kampanye, lalu pemilu
lalu bagi-bagi kursi di pemerintahan
lalu bagi-bagi lahan dan kekuasaan
lalu
lalu
lalu
lalu
lalu lupa

terlalu banyak yang harus diingat dan dilakukan

selanjutnya adalah;
lalu masih memikirkan dan melakukan sesuatu untuk RAKYAT?

lalu kapan ada perubahan
lalu kapan majunya
lalu Pancasila?
lalu kapan arwah korban pelanggaran HAM
dapat keadilan sekalipun dalam kuburnya

lalu apa lagi
ah, sudah lalu itu
sudahlah

???

KITA BUKAN WONG CILIK!

wong cilik
adalah seruan
orang-orang
yang merasa dirinya
BESAR

wong cilik
adalah pembodohan RAKYAT
stigma yang dilekatkan
agar tetap dengan bodoh
mau dan bangga
jadi
wong cilik

AKU bukan wong cilik
AKU tidak mau jadi wong cilik

AKU adalah matahari yang panas membakar
AKUlah bintang dilangit dengan kerlip biru
AKUlah topan yang menerbangkan segala
AKUlah tanah yang dingin dan diam
AKUlah gelombang pada samudera
AKUlah bola dunia yang terus berputar

AKUlah RAKYAT yang
BUKAN rakyat kecil
apalagi
wong cilik

AKU PEMILIK NEGERI INI
JANGAN PANGGIL AKU WONG CILIK!

begitulah akhirnya

begitulah akhirnya
jarak dan waktu
menghapusmu

hapus segala
tentangmu

mengendap
rindu sepi
mengenang
luka menggores
abadi, pada
jarak dan waktu

Thursday, February 12, 2009

namamu menitis embun

namamu;
embun pagi
titis dingin malam;
malamku
terbang ditiup angin
susuri lorong;
lorong kenangan
seolah hendak melipat;
jarak, tak juga dekat
lubang hitam
menganga pekat

namamu adalah;
embun yang menguap
di daun telingaku
yang tak lagi;
mendengar
namamu terucap

namamu adalah udara malam
yang pergi dan kembali, membeku
pada dingin malam, agar
menitis embun pada pagi

ngantuk

setengah sadar
sadar setengah
setengah..
sadar,
setengah
modar

SsSSssSSSss

Tuesday, February 10, 2009

berita kriminal

telah terjadi pemerkosaan
korbannya pohon-pohon
di kota-kota, di mana-mana
pelakunya masih dicari
gambar wajahnya menempel
pada tubuh korbannya

tragedi peradaban (batas hutan)

pohonku
hutanku
tak lagi jadi
garis batas
peradaban

kenang gunung kenangan kami

jejak-jejak kaki kami
kenangan abadi di jalanmu
jiwa-jiwa kami adalah rindu
tak usai hingga janji tunai

batu kokoh tegar abadi,
genit angin diujung tumitmu
pepohonan hijau setia
pada siang pada malam,

haus riap riak sungaimu
jiwa lelah kami tumpah
pada liukan lembahmu teduh
belantaramu kurindu
dinginmu kunanti,

malam berserak bintang,
terserak pula segala luka
hijau permadani alas ibu bumi
alas juga ikhlas kami

rindu hijau
rindu batu
rindu biru
rindu kami

satu masa nanti
kami kembali
mencari jiwa dan hati
yang rebah dipuncakmu

Monday, February 9, 2009

licin-licin jadi

lickin'-lickin'
you lickin' my nips
my nips
:licin-licin

kissin' - kissin'
i kissin' your lip
our lips
:licin-licin

"is that ok?", i said
"i'm ok", you fool

"no i'm not ok!"

if you stoppin'
lickin'-lickin'

gemerlap malam muram

dewi malam
tanpa malam
durjana gelar gelak tawa
dewi malam serah jiwa

milikmu ini malam
cahaya lampu tak temaram
hingar musik halau sepi
tubuh dewi laksana api

gelepar riuh liuk tubuh
goda genit detak bertaluh
ada acuh menari angkuh
bimbang hati isi membancuh

nikmat menikam iba
udara menebar tuba
darah mengalir vodka
sambut segala lena

angin pagi menampar
wajah serupa dewi tampak samar
mata nanar lukis memar
menyetubuh langit-langit kamar

Thursday, February 5, 2009

akulah yang merindukanmu

akulah yang rebah diantara hijau lebat rambutmu
jadi batu diantara likaliku lekuk tubuhmu
mengecup garis lengkung punggungmu
adalah damai paling purba dari semua perjalanan

akulah yang terkapar dalam doa
menembangkan kidung syukur paling agung
pada ujung-ujung telinga kawahmu yang gemuruh
tunaikan janji pada puncak puting susumu

akulah yang mengenang dan merindukanmu
diantara belantara rimba beton gedung angkuh dingin
sekali lagi kuingat betapa gigil tubuhmu begitu hangat
terbakar binar matamu; api unggun kecil di lingkar para sahabat

sampai nanti kita bersua kembali

hitam rambutmu adalah tanah ladang petani
di tepian antara ranupane dan kaki mahameruku

harum tubuhmu, wewangi rumput liar selepas hujan sore
ditepian tanah lapang disisi bukit argopuro memerah

matamu, dalam dan teduh ranukumbolo tak terbayang
kabut tipis yang turun perlahan menjarakkan sudut pandang

pucuk-pucuk edelweiss mekar di mandalawangi
putih abadi mengenang riang tawamu yang bebas kelangit luas


ada rindu yang kutanam ditiap garis lengkung tubuhmu
membuat putus asa saat pendakian sebentar lagi berakhir

aku mencarimu dan terus mencari-cari
pada untaian daun dan butir bening embun terbakar matahari

ada doa dan harap pada tiap jejak kaki
agar kau dan hijau kenangan itu kelak abadi
saat kita bertemu kembali

Monday, February 2, 2009

karena semua akan baik-baik saja

jika saja kau tahu
bahwa setiap tetes air mata
dan setiap ruas kesabaran yang tumbuh
dari tumpukan busuk luka dan koreng masa lalu
akan jadi senyummu yang paling manis yang tak dapat pupus
bahkan oleh badai paling garang sekalipun
dapatkah kau bertahan?
dari himpitan waktu
dan tembok-tembok kamarmu
yang bisu dan tuli?

jika saja kau paham
kesunyian yang mengerogoti
malam-malammu
adalah obat mujarab untuk
menyembuhkan kesakitanmu
yang disebabkan dendam dan kecewa yang menahun
maukah kau berdamai dengan waktu?
meletakkan semua kebencian
dan kerinduan yang kini jadi api

semuanya akan baik-baik saja,
percayalah dan teruslah bertarung
tanpa lelah

roman parfum murahan

kau serupa parfum murahan
yang ku semprotkan di pangkal pangkal nadi
dan urat leher dan setiap lekuk tubuhku
tapi harummu sebentar lalu pudar, lalu
menyengat hidung dan menyesakkan dada
saat harummu bercampur bau badanku
ketika amoniak mulai diproduksi ketiakku yang basah
hilang sudah, harummu tak lagi ada
tinggal bau badanku telanjang karena ketiak yang basah
oleh keringat yang keluar saat menyetubuhimu

Thursday, January 29, 2009

kau adalah candi

kau adalah candi puja puji
tempat bermalam seribu harap dan doa

kau adalah candi yang dibangun dalam satu malam
tempat segala hasrat dan ingin tinggi melayang

kau adalah candi dengan semerbak wangi dupa
tempat pendosa dan pendoa asik masyuk terlena

kau adalah candi ditengah malam sunyi
tumpukan batu yang dingin tegar menyepi

:celah-celah tembokmu penuh
sinar bulan pucat memecah pekat

kopi pagi

bulan mati malam sunyi
harapan diam sebatas mimpi
dulu kekasih pergi
saat sepi, datang ia sesekali
tatap mata itu selalu melati
senyum itu selalu secangkir kopi

Tuesday, January 27, 2009

kamu

kau, adalah puisi
yang tak kutulis
dengan kata-kata

sesuatu yang manis

namamu titik-titik air
pada hujan pagi
riang lembut merintik
jadi embun sejauh jarak

ramah sapamu
hangat kuku
pada manis kopi
dan dingin pagi

suatu malam di depan cafe

malam remaja ketika langit tertimbun awan
menggigil jalan-jalan sepi di sapu angin
ditepian kota saat kutuang bergelas-gelas keluh
pada gelas-gelas bir yang telah kosong di meja cafe
seorang ibu mengigil sendiri didepan pintunya
mungkin ia juga butuh bir

usia tak lagi jadi penanda siang dan malam
iba adalah pengharapan,
airmatanya adalah ongkos
menuju pulang

Thursday, January 22, 2009

selamanya

hidup
mati
fatamorgana
bagi yang fana
tidak
bagi
cinta

Tuesday, January 20, 2009

Papuaku

saudaraku di papua
getar gempa di tanahmu
tak sampai kesini
tak ada kotak sedekah
untukmu hibur hati
ketika tatap tembok-tombok rumah
tak lagi berdiri menopang atapnya

tak ada doa untukmu
habis sudah semuanya
getar gemetar tanahmu
tak cukup gigilkan hati

kotak-kotak amal
air mata air mata
doa doa doa
semua dikirim ke gaza
gaza gaza gaza
lagi-lagi gaza!
negeri jauh di seberang pantai kita
yang kini porak poranda
oleh perang perang perang
persetan dengan itu semua!
bukankah dunia menaruh matanya disana?!

O Papua yang sahaja
biarlah kau tetap sahaja
biarlah! biarlah!
biarlah, gaza!
siapa peduli Papua?!
doa siapa sampai di ranahmu?!
surga diujung negeri yang buta
biarlah!
tetaplah bersahaja!
O Papua

Friday, January 16, 2009

kisah tiga pahlawan

gerombolan kuning sudah ditumpas
tapi pertempuran belum usai

tiga pahlawan satukan tekad
di kebun persik mengangkat saudara

angkat sumpah demi keluarga dan negeri
secangkir arak tanda setia sampai mati

berkelana bersama tiga saudara
lima ratus petani jadi pengikut setia

Liu Bei bijaksana dan garang golok Guan yu
Zhang Fei perkasa ditakuti di seantero negeri

pasang surut pertempuran dijalani
bebaskan rakyat dari tirani


"walau tidak lahir pada hari, tanggal, bulan dan tahun yang sama,
kami berharap dapat mati bersama"

bersamamu

aku,
dimana?

Thursday, January 15, 2009

kata manager HRD

katanya,
"luar biasa"
kalau saya,
"biasa di luar"
katanya,
"aku eksis"
aku bilang,
"sudah dari dulu"

Wednesday, January 14, 2009

mantra dendam

dendam-dendam koyaklah
hantam segala duka
hancurkan cerita cinta

o, nestapa yang sunyi
siksa dunia durjana
hisaplah jiwa, kedalam
lorong-lorong gelap penuh muslihat
jeratlah segala rindu
cekik ia dalam sunyi

usir segala bahagia
cabik-cabik semua tawa
ludahi kata-kata

khianat adalah kado
yang kau kalungkan dileherku
aku tak perlu cinta
hanya butuh bercinta

main hujan

waktu lagi main
hujan turun

turun lagi hujan
waktu main

waktu hujan
lagi turun main

turun lagi yuk!
main hujan

Monday, January 12, 2009

kesumat

dendam pekat
mencabik-cabik harap
jiwa sekarat
megap-megap

seperti kusta menjijik
wajah tanpa muka
menutup malu
aurat tanpa malu

kesumat muntah ruah
tubuh muak tak terkira
dada penuh luka
rahim ibu air mata

nanar

purnama
di atas kota
langit terang di bawahnya
anak-anak malam
berurai airmata
purnama basah luka
esok entah kemana

gaza

ada gempa
di sana

:di papua

Monday, January 5, 2009

laut rusuh

versi 1:

laut mulai rusuh
nelayan angkat sauh
bentang malam lusuh
menjala mimpi subuh

versi 2:

laut rusuh
nelayan angkat sauh
bentang malam
lusuh
jala mimpi
subuh