Total Pageviews

Sunday, October 31, 2010

tragedi

bencana alam
atau
penguasa yang bodoh?

Wednesday, October 20, 2010

gembok di gerbang Yasmin

Tuhan dipenjara
jadi tahanan rumah
vonis bersalah

:karena mengaku sebagai Tuhan

Monday, October 18, 2010

kunjungan

cermin retak o cermin retak
apalagi yang kau tunjukkan selain dusta
refleksi itu tak sempurna
karena itu semua dusta


Friday, October 15, 2010

mimpi Jakarta

pagi di jalanmu
mimpi-mimpi macet
dijalan - jalan raya
dan setiap perempatan lampu merah
adalah waktu yang harus kau bayar
dengan umurmu

siangmu garang,
tembok beton dan kaca-kaca gedung
pencakar langit yang angkuh
silaukan mata dan hati
para pemimpi memungut mimpi
terserak di kaki-kaki lima
termangu di bangku halte bis yang sesak
mimpinya mencakar langit

sore menjelangmu
dengan keringat dan jemu
lampu-lampu dinyalakan, gemerlap

"bereskan mimpimu cepat!,
kita jual di depan klab malam
siapa tahu ini malam ada rejeki"..

belajar menggambar

menggambar waktu
ada senang dahulu
memutar waktu

Sunday, October 10, 2010

kepada puisi

aku ingin bicara denganmu
tentang banyak hal tentu
tapi selalu saja tak kutemui awalnya
karena begitu banyak yang ingin dikeluarkan dari kepala
segala persoalan ini seperti kabut
yang memburamkan pandangan
seperti malam yang melelahkan mata kita
dan pelan-pelan membunuh dalam kegelapannya

aku ingin bicara denganmu
tentang kemiskinan negeri kita
tapi selalu saja aku diganggu oleh bayang-bayang
para pejabat kita yang berpakaian rapih dan mewah

suatu ketika aku juga ingin bicara denganmu
tentang korupsi dan hukum yang bengkok
lagi-lagi terbentur dan mentok ketika kubayangkan begitu banyak
senyuman para bajingan yang kaya karena korupsi lolos dari jeruji

sesekali ketika aku tak terlalu berpikir
aku ingin juga ngobrol-ngobrol tentang sepak bola
ah lagi-lagi aku ingat kita tak pernah lagi jadi pemenang

jadi, kapan kita bicara?

sia-sia

kawanan ternak
tanpa otak berkumpul
di kelas-kelas

belajar ilmu
mata kuping tertutup
sebuah percetakan

bapak berduit
pergilah kau kuliah
ikut aturan

mau apa kau
jika hidung tercucuk
satu ironi