langkah demi langkah
pendakian demi pendakian
luka demi luka dan
kenangan pahit
mengakar dan lindap
tumbuh jadi gunung batu
yang kini coba kau sangkal
setelah sekian kali terjungkal
perjumpaan demi perjumpaan
petualangan demi petualangan
hingga sampai pada satu senyuman
menghantammu bagai silau terik siang
dan kau buta, berjalan membabi buta
tak tentu arah tujuan, kau mabuk cahaya
seperti laron pada lampu neon
langkah semakin berat sekaligus riang
sesekali kau tengok ke belakang
gunung batu itu menjulang
belum dapat kau taklukan
(*catatan untuk seorang kawan: "semoga kau menang!")
Tuesday, January 8, 2013
Thursday, January 3, 2013
Thursday, December 20, 2012
jenuh
dimana rima sajak-sajak yang dulu ku tanam
hanya ada suara berisik yang bising tak tentu
kemana perjalanan dan petualangan pergi
aku berjalan entah lurus atau berliku
aku hanya berjalan
atau justru diam?
hanya ada suara berisik yang bising tak tentu
kemana perjalanan dan petualangan pergi
aku berjalan entah lurus atau berliku
aku hanya berjalan
atau justru diam?
Tuesday, December 18, 2012
Monday, November 26, 2012
Tuesday, October 16, 2012
sebuah pernyataan
pahit dan getir
bersekutu membunuhku
tersudut aku
nalar dan hati menyekam api
yang dikalahkan keadaan
bukanlah yang kalah
ada suatu masa,
dimana keadaan yang menghimpit
harus dijungkirbalikkan
dengan tanganmu sendiri
bersekutu membunuhku
tersudut aku
nalar dan hati menyekam api
yang dikalahkan keadaan
bukanlah yang kalah
ada suatu masa,
dimana keadaan yang menghimpit
harus dijungkirbalikkan
dengan tanganmu sendiri
Thursday, September 27, 2012
aku akan terus berkata TIDAK"
aku akan terus berkata tidak
meski kau paksa aku untuk tunduk
di bawah panji-panji penjilatmu itu,
jilatlah apa yang bisa kau jilat dan
jerat saja leherku,
karena aku tak akan menunduk di depanmu
tikamkan saja pisau muslihatmu kedadaku
dan binatang jalang di jiwaku akan merobek-robek
mukamu yang tebal itu dan dengan darahmu
kusucikan jejakku sampai
lidahmu yang kau pakai menjilat itu tak lagi besuara
dan kata TIDAK akan terus menggema diliang kuburmu yang busuk
meski kau paksa aku untuk tunduk
di bawah panji-panji penjilatmu itu,
jilatlah apa yang bisa kau jilat dan
jerat saja leherku,
karena aku tak akan menunduk di depanmu
tikamkan saja pisau muslihatmu kedadaku
dan binatang jalang di jiwaku akan merobek-robek
mukamu yang tebal itu dan dengan darahmu
kusucikan jejakku sampai
lidahmu yang kau pakai menjilat itu tak lagi besuara
dan kata TIDAK akan terus menggema diliang kuburmu yang busuk
Subscribe to:
Posts (Atom)