Total Pageviews

Wednesday, April 15, 2009

sepanjang perjalanan

aku adalah topeng
dari setiap ketakutan dan ngeri,
dari luka dan nestapa dari dosa
aku beribu bentuk tak satu pun diingini
sepi jadi bayang-bayang mengintai
seperti mati

lorong-lorongku sunyi di rongga dada
ada neraka di jantungku,
gemetar karena gelisahku memamah
berjalanku sendiri menuju kesilaman waktu

deret pohon adalah romansa dalam bisu
berbaris rapi menghibur sudut mata yang lelah
entah, ku rasa ada damai di bawah dahannya
beberapa supir angkot menggantung mimpi di rerantingnya
menjaganya sambil rebah diatas tikar anyam usang yang
sudah sedikit hitam jeraminya
aspal jalan pun tak lagi medan pertempuran yang garang
semua lelap, senyap

aku adalah topeng yang iri ketika
kucuri bisik-bisik gembel dan pemulung yang
asyik ngobrol di samping gerobaknya
menunggu pagi sambil makan angin, makan angan
gratis! sampai kenyang
trotoar jalan kita punya, tak usah risau tentang apapun itu


aku adalah topeng retak
yang kuat-kuat sembunyi dan bertahan
dari hantaman waktu dan perjalanan yang
tak tahu kapan usai

aku adalah topeng
topeng adalah aku
dalam bayang-bayang
masa lalu, yang
mengirim cemas
pada hari esok

1 comment:

@neze said...

Di copotlah topengnya!
ayo, tantang masa depan
dengan paras asli, dengan berani

gantian, g yg pake dah tu topeng hehehe!

;yiahahahayyy hasil semedi di Gunung Slamet Maz puisi itu.